Monday, July 22, 2013

(Berani Cerita #20) Ketakutan

“Pantainya indah ya…”

“Iya…”

“Aku punya mimpi, ingin memiliki rumah di tepi pantai…”

“Aku juga suka pantai, tapi gak segitunya..”

“Maksudmu?”

“Ya gak sampe pengen jadi nelayan tinggal di tepi pantai gitu…”

“Yang bilang jadi nelayan siapaaaa?”

Kemudian terdengar suara tawa berderai.


Kresek.. kresek.. kresek..


“Aku lebih suka disini”

“Hmm?”

“Ada pohon yang rimbun. Padang hijau yang landai. Angin sepoi-sepoi. Langit biru terang… indah kan?”

“Lebih indah dari pada laut maksudmu?

“Mmm… beda-beda indahnya sih ya. Disini, udaranya segar. Produksi oksigen dari tumbuhan-tumbuhan hijau ini bagus sekali untuk kita. Lagipun jika matahari sedang terik, disini akan tetap adem…”

Terdengar suara helaan nafas.

“Pantai itu indah. Tapi hanya untuk dikunjungi sesekali. Bukan tiap hari. Kamu mau kulitmu gosong terbakar matahari gara-gara tiap hari mainnya di pantai?”

“Eerr…”

“Gak kaaan?”

“Udah ah, jangan direkam terus…”

“Iyaaa, iyaaa. Ini aku matiin..”


Kresek.. kresek.. kresek..


Ctek! Putaran kaset berhenti otomatis.

“Kamu dengar, Nisaaa? KAMU DENGAR? HAH?” Pras membentak wanita didepannya. Tangan dan kakinya terikat. Mulutnya tertutup lakban hitam. Rambutnya kusut masai. Wajahnya berantakan karena bedak dan eye liner yang luntur oleh air mata dan keringat.

Gelengan keras dan erangan tangis yang menjadi jawaban. Untuk melawan, wanita itu sudah kewalahan.

“MANA JANJIMU AKAN SETIA DULU? MANAAA???” Pras berteriak tepat didepan wajah Nisa. Mata Nisa memejam ngeri. Air Matanya tak terbendung lagi.

“Jika aku tidak bisa memilikimu, TIDAK JUGA DIA, NISAAA!!!”

BUGHHH!!!

Pras meninju dinding. Dia pergi ke arah lemari. Mengacak-acak isinya untuk mencari belati.

“Lihat ini.. LIHAT…” Pras memain-mainkan ujung belati ke wajah Nisa. Mencongkel sedikit ujung lakban yang menutup mulutnya lalu menariknya dengan kasar.

“Jangan teriak. Atau kamu mati lebih cepat” Pras meletakkan ujung belati tepat dibawah kerongkongan Nisa. Nisa terengah-engah.

“Ma..af..kan a..aku, Pras…” Ujar Nisa lemah.

“Kamu jangan khawatir, Nisa… Kamu tak akan sendirian... Aku akan menyusulmu segera… “ bisik Pras di telinga Nisa. Nisa memejamkan matanya kuat-kuat. Pasrah pada apapun yang akan diperbuat lelaki gila bernama Pras ini.

Dzeggg!!!

Sekali sayat. Kepala nisa lunglai. Darah mengucur deras dari nadi leher.

“Aku segera menyusulmu, sayang…” Pras meletakkan belati tepat di lehernya dan…

BRUKKK!

Ia pun ambruk

***

“Dek, udah.. buka matanya.. film nya sudah habis…” Suara Mas Djarwo berbisik ketelingaku.


Word Count: 357

Sunday, July 21, 2013

10.30 pm

10.30 pm.

Aku mengedarkan pandanganku kesekeliling. Aku berada di UGD. Suasananya ramai. Baru saja terjadi kecelakaan hebat. Bis lintas antar kota dengan truk pengangkut pisang, kabarnya. Entah apa penyebabnya. Kelalaian pengemudi barangkali. Aku tak tau pasti. 

Aku duduk di sebuah kursi kosong yang terletak di pojok ruangan. Disini agak sepi dari pada di tengah ruangan sana. Penuh sesak dengan ranjang-ranjang tipis, tiang-tiang infus dengan para korban menjerit-jerit histeris. Suasana di dalam sini sedang panik sekali. Para suster mondar-mandir. Sebagian ada yang membersihkan luka-luka korban yang tak bisa dibilang ringan. Mayoritas korban terluka karena terjepit dan terkena beling. Wajar. Melihat bagian depan bis yang memang hancur dan rusak parah.

Di tempat tidur ujung sana. Seorang lelaki paruh baya. Aku melihat kakinya lunglai berdarah-darah. Wajahnya sudah tak terlihat jelas. Warnanya hanya merah. Dia dikerumuni tiga suster. Seorang suster membersihkan bagian kakinya, seorang membersihkan wajahnya dari tusukan beling, dan seorang lagi membantu keduanya.

Di tempat tidur sebelahnya, terbaring tenang seorang ibu dengan wajah, tangan dan kaki terbalut perban. Aku tak mengenalnya. Tapi dari baju kurung yang ia kenakan, sepertinya ia adalah ibu yang menawariku buah salak di bis tadi. Sukurlah ibu itu sudah selesai ditangani. Tenaga medis disini kerjanya cekatan sekali.

Aku melihat ranjang disebelahnya. Disana sudah tidak ada siapa-siapa. Hanya terbaring seorang laki-laki remaja seumuranku. Dia diam saja. Tak seperti pasien lain yang mengaduh kesakitan disana-sini. Wajahnya sudah bersih tak berlumuran darah lagi. Hanya tinggal bekas tusukan beling. Kepalanya terbalut perban tebal. Tubuhnya terblut kemeja yang warnanya sudah tak jelas karena dikotori darah dan lumpur. Katanya, dia sempat terlempar dari jendela dan masuk ke kubangan lumpur. Kepalanya pendarahan hebat karena terantuk batu yang ada disitu. 

Aku datang mendekat dan mencoba mengingat-ingat. Dia ini tadi duduk di kursi nomor berapa ya? Aku berdiri tepat disebelah ranjangnya. Menatap wajahnya lurus-lurus sambil berpikir keras. Hingga kemudian para suster kembali datang dan membentangkan selimut putih menutupi tubuh dan wajahnya.

Seketika itu aku ingat. Aku tau dia siapa. Aku amat mengenalnya. Dia Norman. Usianya 17 Tahun. Duduk di nomor bangku 18. Iya. Dia itu… Aku.

#JuliNgeblog #Day17

Saturday, July 20, 2013

Kejutan Pak Andi

Rumah kosong didepan rumahku sudah ditempati. Penghuninya seorang duda beranak dua. Dari berita yang kudengar, usianya 46 tahun. Terpaut 18 tahun dari usiaku.

“permisi, mbak…” terdengar suaranya dari luar. Aku bergegas menuju pintu depan. Kudapati ia tersenyum disana. Manis sekali.

“Ayo dong, dek.. dikasihkan ke mbaknya…” bisiknya kepada seorang anak perempuan yang menenteng nampan.

“Ini, mbak…” Katanya malu-malu.

“Wah. Terima kasih. Siapa yang buat takjilnya?” Kataku seraya menyilahkan mereka masuk ke ruang tamu.

“Ini adek dan kakak yang buat, mbak…” jawab putri kecil itu malu-malu.

“Keroyokan bertiga, mbak. Mohon maaf kalo hasilnya gak memuaskan. Maklum, pada puasa. Gak ada yang nyicip” sambung pak Andi ramah. Ia tersenyum lagi.

“Makasi banyak lho, pak. Gak masuk dulu? Didalam ada ibu…” kataku.

“Oh, tidak mengapa. Terima kasih. Bentar lagi buka, kan? Dirumah kakaknya sendirian..” tolaknya halus. Putrinya melambaikan tangan ke arahku. Ah, manis sekali.

***

Kini genap enam bulan sudah kami bertetangga. Layaknya tetangga, kami sering bersapa jika kebetulan keduanya berada diberanda. Tak jarang saling bertukar isi piring jika kebetulan memasak sesuatu yang beda. Sejauh ini, terlihat pak Andi orang yang amat bertanggung jawab kepada keluarga. Tak pernah terdengar sekalipun suaranya meninggi kepada kedua anaknya. Seperti rutinitas, setiap sore Senin, Rabu dan Jum’at mereka pasti keluar bersama. Jalan-jalan sore katanya. Pemandangan yang paling aku suka, jika ternyata putrinya tertidur di jok depan motornya sehingga dia harus menggendongnya kedalam rumah.

Duh.

Aku jadi teringat almarhum ayah. Penyayang dan penyabar luar biasa. Jaman sekarang, mana ada lelaki yang begitu. Banyakan yang egois. Mau menang sendiri. Apalagi jika sudah mapan. Huh.

Hari berlalu dan aku semakin kagum pada beliau. Tak dapat aku pungkiri, ada angan yang tumbuh dihati untuk memiliki pendamping seperti beliau.  Aku berharap. Sungguh. Kini beliau sudah duduk didepan kami. Aku dan ibu. Katanya ingin menyampaikan sesuatu yang penting.

“Saya senang dengan keluarga ini…” Pak Andi memulai kalimatnya. Suaranya bikin adem. Aku menikmati setiap kata yang keluar dari mulutnya.

“Dan saya juga mulai memikirkan untuk memberi ibu untuk anak-anak dan juga pendamping saya…” Lanjutnya. Aku deg-degan. Tanganku panas dingin. Harapku mengembang dan mengembaaanggg.

“Dengan ini saya mohon ijin…” kata-katanya berjeda lagi. Aku semakin tak sabar menunggu kelanjutannya.

“Untuk melamar ibu Retno menjadi ibu dari anak-anak saya…” Lanjutnya.

JEDERRR!

“Ap..Apa, pak?” suaraku tercekat. Aku tak tau reaksi ibu seperti apa.

“Iya. Saya yakin, seorang ibu yang sudah membesarkan kamu menjadi sebaik ini, pasti akan bisa mendidik anak-anakku juga. Dan mereka, sudah menganggap kamu seperti kakak sendiri, nak” Jawabnya sambil tersenyum sesekali dan terus memandang ibu dan aku.

Aku mendadak pusing.

#JuliNgeblog #Day16